Beranda / Research / Penelitian Pengobatan Kanker Terkini

Penelitian Pengobatan Kanker Terkini

Pendahuluan

Pengobatan kanker semakin bergeser dari pendekatan yang seragam menuju precision oncology, yaitu pemilihan terapi berdasarkan karakter biologis tumor dan sistem imun pasien. Perkembangan ini terlihat dari penggunaan biomarker seperti BRAF, target DLL3 pada kanker paru sel kecil, antigen GD2 pada tumor otak, serta neoantigen yang bersifat spesifik bagi masing-masing tumor.

Enam penelitian berikut memiliki tingkat kematangan berbeda. Tarlatamab dan kombinasi terapi untuk kanker kolorektal BRAF-mutasi telah didukung uji klinis fase 3. Sebaliknya, vaksin neoantigen, CAR-T, dan TIL masih berada dalam tahap penelitian awal atau pengembangan lanjutan.


1. Tarlatamab untuk Kanker Paru Sel Kecil

Latar belakang

Kanker paru sel kecil atau small-cell lung cancer merupakan kanker yang tumbuh cepat dan sering telah menyebar ketika terdiagnosis. Walaupun awalnya dapat merespons kemoterapi, kanker ini sering mengalami kekambuhan dan menjadi resisten terhadap terapi berikutnya.

Kondisi tersebut membuat pilihan terapi setelah kemoterapi platinum menjadi terbatas. Tarlatamab dikembangkan sebagai imunoterapi baru untuk pasien kanker paru sel kecil stadium lanjut yang penyakitnya memburuk selama atau setelah terapi berbasis platinum.

Mekanisme terapi

Tarlatamab merupakan bispecific T-cell engager atau BiTE. Obat ini memiliki dua sisi pengikat:

  • Satu sisi mengenali protein DLL3 pada permukaan sel kanker.
  • Sisi lainnya mengikat CD3 pada sel T.
  • Sel T kemudian didekatkan secara langsung dengan sel kanker.
  • Sel T yang teraktivasi menyerang dan menghancurkan sel tumor.

Mekanisme ini berbeda dari imunoterapi checkpoint inhibitor. Checkpoint inhibitor bekerja dengan melepaskan “rem” sistem imun, sedangkan tarlatamab bekerja seperti penghubung yang mengarahkan sel T langsung ke sasaran kanker.

Desain penelitian

Uji DeLLphi-304 merupakan penelitian fase 3 yang membandingkan tarlatamab dengan kemoterapi pada pasien kanker paru sel kecil yang telah mengalami progresi setelah terapi platinum.

Penelitian ini penting karena menggunakan kelompok pembanding, sehingga manfaat tarlatamab dapat dinilai terhadap terapi yang telah menjadi pilihan standar. Hasilnya dipublikasikan di The New England Journal of Medicine.nejm

Hasil utama

Median overall survival pasien yang menerima tarlatamab mencapai 13,6 bulan, dibandingkan 8,3 bulan pada kelompok kemoterapi. Risiko kematian lebih rendah sekitar 40% pada kelompok tarlatamab, dengan hazard ratio 0,60. Tarlatamab juga memberikan keuntungan dalam progression-free survival serta mengurangi beberapa gejala kanker, termasuk sesak dan batuk.pubmed.ncbi.nlm.nih

Efek samping berat tingkat 3 atau lebih tinggi dilaporkan lebih rendah dengan tarlatamab dibandingkan kemoterapi, yaitu sekitar 54% berbanding 80%. Penghentian terapi akibat efek samping juga lebih rendah pada kelompok tarlatamab.pubmed.ncbi.nlm.nih

Risiko terapi

Efek samping paling penting adalah cytokine release syndrome atau CRS. Kondisi ini dapat menyebabkan demam, tekanan darah turun, denyut jantung meningkat, sesak, dan gangguan organ.

Efek lain yang perlu diwaspadai adalah gangguan neurologis, kelelahan, penurunan nafsu makan, dan gangguan sel darah. Karena itu, pemberian dosis awal membutuhkan observasi ketat dan kesiapan menangani komplikasi imunologis.

Analisis

Penelitian ini memiliki nilai klinis kuat karena menunjukkan manfaat survival dibandingkan kemoterapi, bukan hanya penyusutan tumor. Tarlatamab memperlihatkan bahwa imunoterapi yang menghubungkan sel T dengan target kanker tertentu dapat memberi manfaat pada kanker paru sel kecil yang sulit ditangani.

Namun, hasilnya tidak berarti seluruh pasien kanker paru dapat menggunakan tarlatamab. Terapi ini ditujukan untuk kelompok tertentu, terutama pasien dengan kanker paru sel kecil stadium lanjut yang telah menerima kemoterapi platinum. Pengawasan terhadap CRS dan efek neurologis menjadi bagian penting dari keselamatan terapi.


2. Encorafenib, Cetuximab, dan mFOLFOX6 pada Kanker Kolorektal BRAF-Mutasi

Latar belakang

Sebagian kanker kolorektal memiliki mutasi BRAF V600E. Mutasi ini mengaktifkan jalur pertumbuhan sel secara terus-menerus sehingga tumor menjadi lebih agresif dan sering memiliki prognosis yang kurang baik.

Karena tidak semua kanker kolorektal memiliki mutasi tersebut, pemeriksaan biomarker menjadi syarat penting sebelum terapi dipilih.

Komponen terapi

Penelitian ini menggabungkan tiga pendekatan:

  • Encorafenib, penghambat protein BRAF.
  • Cetuximab, antibodi yang menghambat reseptor EGFR.
  • mFOLFOX6, kombinasi kemoterapi fluorouracil, leucovorin, dan oxaliplatin.

Ketiganya menyerang kanker melalui mekanisme yang berbeda.

Dasar biologis kombinasi

Encorafenib menghambat sinyal pertumbuhan yang berasal dari BRAF. Namun, sel kanker dapat mengaktifkan jalur alternatif, termasuk EGFR, untuk melanjutkan pertumbuhan.

Cetuximab ditambahkan untuk menghambat EGFR. Kemoterapi mFOLFOX6 kemudian menyerang sel kanker yang sedang membelah. Kombinasi tersebut bertujuan mencegah tumor beradaptasi hanya dengan mengubah satu jalur pertumbuhan.

Hasil penelitian

Uji fase 3 menunjukkan bahwa kombinasi encorafenib, cetuximab, dan mFOLFOX6 memperpanjang progression-free survival dan overall survival dibandingkan terapi standar pada pasien kanker kolorektal metastatik dengan mutasi BRAF V600E.nejm

Hasil tersebut menunjukkan manfaat terapi yang dipilih berdasarkan profil molekuler tumor. Dalam konteks ini, lokasi kanker saja tidak cukup untuk menentukan pengobatan; mutasi penggerak pertumbuhan juga menjadi pertimbangan utama.

Efek samping

Kemoterapi dapat menyebabkan mual, kelelahan, penurunan sel darah, diare, dan neuropati perifer. Cetuximab sering dikaitkan dengan ruam kulit, gangguan elektrolit, dan reaksi terkait infus.

Encorafenib dapat menimbulkan gangguan kulit, mata, hati, atau jantung. Pemantauan laboratorium, kondisi kulit, fungsi jantung, dan gejala neurologis perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.

Keterbatasan

Terapi ini tidak ditujukan bagi pasien tanpa mutasi BRAF V600E. Mutasi BRAF lainnya belum tentu memberikan respons yang sama. Selain itu, hasil penelitian pada kanker kolorektal metastatik tidak dapat langsung diterapkan pada kanker kolorektal stadium awal.

Analisis

Penelitian ini merupakan contoh bahwa terapi presisi tidak selalu berarti menggantikan kemoterapi. Justru, kemoterapi tetap menjadi bagian dari kombinasi ketika dikombinasikan dengan terapi target yang tepat.

Pelajaran pentingnya adalah pemeriksaan biomarker dapat mengubah strategi pengobatan secara signifikan. Keberhasilan terapi lebih ditentukan oleh kecocokan antara obat dan karakter tumor, bukan semata-mata oleh label “obat terbaru”.


3. TACE, Imunoterapi, dan Terapi Antiangiogenesis pada Kanker Hati

Latar belakang

Karsinoma hepatoseluler atau hepatocellular carcinoma merupakan kanker hati primer yang sering berkaitan dengan sirosis, hepatitis B, hepatitis C, atau penyakit hati kronis lainnya.

Pada stadium menengah, salah satu terapi yang digunakan adalah transarterial chemoembolization atau TACE. Prosedur ini memasukkan obat kemoterapi melalui pembuluh darah yang memasok tumor, kemudian menyumbat aliran darah tersebut.

Gagasan penelitian

TACE memiliki dua efek: memberikan obat langsung ke tumor dan mengurangi suplai darahnya. Namun, kerusakan tumor juga dapat memicu respons biologis yang mendorong terbentuknya pembuluh darah baru.

Karena itu, penelitian mengombinasikan TACE dengan:

  • Imunoterapi untuk meningkatkan aktivitas sel imun.
  • Terapi antiangiogenesis untuk menghambat pembuluh darah baru.
  • TACE untuk mengendalikan massa tumor secara lokal.

NCI melaporkan bahwa kombinasi TACE dengan imunoterapi dan penghambat angiogenesis dapat menjadi pendekatan baru pada sebagian pasien kanker hati stadium menengah.cancer

Hasil penelitian

Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi TACE dengan terapi sistemik dapat memperpanjang waktu sebelum penyakit mengalami progresi dibandingkan TACE saja. Hal ini menandakan bahwa terapi lokal dan terapi sistemik dapat saling memperkuat.

Namun, peningkatan progression-free survival belum selalu identik dengan peningkatan overall survival. Karena itu, hasil jangka panjang, kualitas hidup, dan kemampuan mempertahankan fungsi hati tetap harus dievaluasi.

Masalah khusus pada kanker hati

Berbeda dari banyak kanker lain, pasien kanker hati sering memiliki dua penyakit sekaligus:

  1. Tumor hati.
  2. Kerusakan hati kronis atau sirosis.

Terapi yang efektif terhadap kanker dapat menjadi berisiko bila fungsi hati sudah sangat menurun. Pemilihan pasien harus memperhatikan fungsi hati, luas tumor, pembuluh darah yang terkena, dan ada tidaknya penyebaran ke organ lain.

Efek samping

TACE dapat menyebabkan nyeri perut, demam, mual, peningkatan enzim hati, dan sindrom pasca-embolisasi. Imunoterapi dapat menyebabkan peradangan hati, paru, usus, kulit, atau kelenjar endokrin.

Terapi antiangiogenesis dapat meningkatkan risiko hipertensi, perdarahan, gangguan penyembuhan luka, dan komplikasi pembuluh darah.

Analisis

Penelitian ini memperlihatkan perubahan cara berpikir dalam pengobatan kanker hati. TACE tidak lagi hanya dipandang sebagai prosedur lokal, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi untuk merangsang dan mengarahkan respons imun sistemik.

Meskipun demikian, kombinasi ini tidak cocok untuk semua pasien. Fungsi hati, risiko perdarahan, kondisi umum, dan stadium kanker harus menjadi dasar keputusan. Keberhasilan terapi juga harus diukur bukan hanya dari ukuran tumor, tetapi dari kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien.


4. Vaksin Kanker Personal Berbasis Neoantigen

Latar belakang

Vaksin neoantigen merupakan salah satu bentuk terapi kanker yang paling personal. Vaksin ini dibuat berdasarkan mutasi spesifik yang ditemukan pada tumor pasien.

Mutasi tersebut dapat menghasilkan protein abnormal yang disebut neoantigen. Karena neoantigen tidak ditemukan pada sebagian besar sel normal, sistem imun berpotensi mengenalinya sebagai sasaran kanker.

Proses pengembangan

Secara umum, prosesnya meliputi:

  1. Pengambilan jaringan tumor.
  2. Pengurutan DNA atau RNA tumor.
  3. Identifikasi mutasi yang berpotensi menjadi neoantigen.
  4. Pemilihan target yang dapat dikenali sel T.
  5. Pembuatan vaksin individual.
  6. Pemberian vaksin, sering kali bersama imunoterapi.

Tujuan utamanya adalah membentuk sel T yang dapat mengenali dan menyerang sel kanker yang tersisa setelah operasi.

Penelitian pada kanker pankreas

Kanker pankreas memiliki risiko kekambuhan tinggi, bahkan setelah tumor berhasil diangkat. Dalam penelitian awal, vaksin diberikan setelah operasi untuk mengaktifkan respons imun terhadap sisa sel kanker yang tidak terlihat melalui pemeriksaan pencitraan.

NCI melaporkan bahwa sebagian pasien menunjukkan respons sel T yang kuat dan beberapa tetap bebas kekambuhan selama masa pemantauan awal.cancer

Temuan ini penting karena kanker pankreas dikenal memiliki lingkungan mikro tumor yang menekan sistem imun. Vaksin neoantigen berusaha mengatasi masalah tersebut dengan memberikan target yang lebih spesifik.

Penelitian pada kanker ginjal

Pada kanker ginjal, pendekatan serupa digunakan setelah pengangkatan tumor. Vaksin dibuat berdasarkan karakter molekuler tumor masing-masing pasien.

Dalam kelompok kecil yang dilaporkan, tidak ditemukan kekambuhan selama periode observasi penelitian. Namun, jumlah pasien yang terbatas dan ketiadaan kelompok kontrol membuat hasil tersebut belum cukup untuk menyatakan vaksin tersebut efektif secara pasti.cancer

Potensi terapi

Keunggulan utama vaksin neoantigen adalah kemampuan menghasilkan memori imun. Jika kanker muncul kembali dengan neoantigen yang sama, sel T memori dapat merespons lebih cepat.

Pendekatan ini juga membuka kemungkinan kombinasi dengan checkpoint inhibitor atau terapi sel untuk meningkatkan efektivitas.

Keterbatasan

Tidak semua mutasi dapat menghasilkan neoantigen yang benar-benar terlihat oleh sel T. Tumor juga dapat menghindari serangan imun dengan kehilangan antigen, menurunkan presentasi antigen, atau membentuk lingkungan yang menghambat sel T.

Selain itu, pembuatan vaksin membutuhkan analisis genomik, bioinformatika, fasilitas produksi khusus, dan waktu. Hal ini dapat menyulitkan penerapan pada sistem kesehatan dengan sumber daya terbatas.

Analisis

Vaksin neoantigen menunjukkan arah penting dalam pengobatan kanker: terapi tidak hanya disesuaikan dengan jenis kanker, tetapi dengan mutasi spesifik tumor pasien.

Namun, penelitian ini masih berada pada tahap awal. Vaksin neoantigen belum dapat disebut sebagai vaksin pencegahan umum dan belum terbukti mampu mencegah kekambuhan pada semua pasien. Bukti yang lebih kuat masih memerlukan uji klinis besar dengan kelompok pembanding dan pemantauan overall survival.


5. CAR-T Anti-GD2 untuk Diffuse Midline Glioma

Latar belakang

Diffuse midline glioma atau DMG adalah tumor otak agresif yang banyak ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. Tumor ini sering berada di lokasi yang sulit dioperasi, termasuk struktur otak yang mengatur fungsi vital.

Terapi konvensional seperti radioterapi dapat memberikan manfaat sementara, tetapi pilihan pengobatannya masih sangat terbatas.

Mekanisme CAR-T

CAR-T merupakan terapi sel yang menggunakan sel T pasien sendiri. Tahapannya meliputi:

  1. Sel T diambil dari darah pasien.
  2. Sel T dimodifikasi secara genetik.
  3. Sel tersebut diberi reseptor CAR.
  4. CAR dirancang mengenali antigen tertentu pada sel kanker.
  5. Sel CAR-T diperbanyak di laboratorium.
  6. Sel dikembalikan ke tubuh pasien.

Dalam penelitian ini, target yang digunakan adalah GD2, yaitu antigen yang ditemukan pada sebagian sel DMG.cancer

Hasil penelitian

Dalam penelitian kecil, terapi CAR-T anti-GD2 menghasilkan penyusutan tumor pada sebagian pasien. Beberapa pasien juga mengalami perbaikan neurologis, sementara sebagian lainnya menunjukkan respons yang bertahan cukup lama.cancer

Hasil ini penting karena DMG merupakan tumor dengan prognosis buruk dan pilihan terapi terbatas. Perbaikan neurologis juga menjadi indikator penting karena kanker di area tengah otak dapat memengaruhi gerak, keseimbangan, bicara, menelan, dan fungsi vital.

Risiko

CAR-T dapat menyebabkan CRS akibat aktivasi sistem imun yang kuat. Pada pasien dengan tumor otak, pembengkakan di dalam otak menjadi perhatian khusus karena ruang di dalam tengkorak sangat terbatas.

Risiko lainnya meliputi gangguan neurologis, infeksi, penurunan sel darah, dan kemungkinan tumor menghindari sistem imun dengan menurunkan atau kehilangan antigen GD2.

Keterbatasan

Jumlah pasien dalam penelitian ini masih kecil. Tidak semua pasien mengalami respons dan belum diketahui berapa lama manfaatnya dapat bertahan pada populasi yang lebih luas.

Selain itu, produksi CAR-T membutuhkan fasilitas khusus, waktu, biaya besar, dan pengawasan multidisiplin. Terapi ini belum dapat diperlakukan sebagai standar umum untuk seluruh pasien DMG.

Analisis

CAR-T anti-GD2 menunjukkan bahwa terapi sel mungkin dapat diperluas dari kanker darah ke tumor padat di otak. Penelitian ini memberikan bukti awal bahwa sistem imun dapat direkayasa untuk mengenali target spesifik pada tumor otak.

Namun, keberhasilan awal tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa CAR-T telah menjadi obat definitif untuk DMG. Tantangan utama masih mencakup keamanan, durasi respons, penetrasi terapi ke jaringan tumor, dan kemampuan tumor menghindari pengenalan imun.


6. TIL Therapy untuk Kanker Gastrointestinal Metastatik

Pengertian TIL

TIL adalah singkatan dari tumor-infiltrating lymphocyte, yaitu sel limfosit yang telah masuk ke jaringan tumor. Kehadiran sel ini menunjukkan bahwa sistem imun sebenarnya dapat mengenali kanker, tetapi jumlah atau kekuatannya belum cukup untuk mengendalikan penyakit.

Dalam terapi TIL, sel imun dari tumor pasien diambil, diperbanyak di laboratorium, lalu dikembalikan ke tubuh dalam jumlah besar.

Tahapan terapi

Proses terapi biasanya meliputi:

  1. Pengambilan jaringan tumor.
  2. Pemisahan limfosit dari jaringan tersebut.
  3. Identifikasi atau pemilihan sel yang memiliki aktivitas antitumor.
  4. Perbanyakan sel dalam jumlah besar.
  5. Kemoterapi limfodeplesi sebelum infus.
  6. Pengembalian TIL ke tubuh pasien.
  7. Pemberian interleukin-2 pada kondisi tertentu.

Penelitian pada kanker gastrointestinal

NCI melaporkan pengembangan TIL untuk kanker gastrointestinal metastatik, termasuk kanker kolorektal dan kanker saluran cerna lainnya. Pada penelitian awal, sebagian pasien mengalami penyusutan tumor, termasuk pasien yang sebelumnya telah menerima berbagai terapi standar.cancer

Hasil ini menarik karena tumor gastrointestinal metastatik sering memiliki lingkungan mikro yang menghambat aktivitas sel imun.

Perbedaan dengan imunoterapi checkpoint

Checkpoint inhibitor berusaha melepaskan rem sistem imun. TIL menggunakan pendekatan berbeda, yaitu mengambil sel imun yang sudah berada di dalam tumor, memperbanyaknya, dan mengembalikannya dalam jumlah besar.

Secara sederhana, TIL berusaha memperkuat “pasukan lokal” yang telah memiliki kemampuan mengenali tumor.

Risiko terapi

TIL merupakan terapi yang kompleks dan cukup berat bagi pasien. Risiko dapat berasal dari beberapa tahap sekaligus:

  • Operasi atau biopsi untuk mengambil tumor.
  • Kemoterapi limfodeplesi.
  • Infus sel dalam jumlah besar.
  • Pemberian interleukin-2.
  • Penurunan sel darah dan risiko infeksi.
  • Demam, tekanan darah turun, dan gangguan ginjal.

Karena itu, terapi TIL biasanya hanya dapat dilakukan di pusat kanker yang memiliki fasilitas laboratorium dan tim multidisiplin.

Keterbatasan

Tidak semua pasien memiliki tumor yang dapat diambil dengan aman. Tidak semua sampel tumor juga menghasilkan sel imun yang cukup aktif untuk dikembangkan.

Sebagian besar penelitian dilakukan pada pasien dengan kanker lanjut yang telah menerima banyak terapi. Oleh karena itu, hasilnya tidak dapat langsung diterapkan pada pasien stadium awal atau dibandingkan secara langsung dengan operasi dan terapi standar.

Analisis

TIL merupakan salah satu bentuk imunoterapi paling personal karena produk terapinya berasal langsung dari tumor dan sistem imun pasien tertentu.

Potensinya cukup besar, tetapi kompleksitas produksi, biaya, waktu, risiko efek samping, dan variasi kualitas sel membuat terapi ini belum mudah diterapkan secara luas. Penelitian berikutnya perlu menentukan pasien yang paling mungkin merespons dan apakah TIL sebaiknya diberikan lebih awal sebelum penyakit menjadi terlalu luas.

Kesimpulan

Enam penelitian tersebut memperlihatkan bahwa masa depan pengobatan kanker tidak bergerak menuju satu obat universal, melainkan menuju terapi yang disesuaikan dengan:

  • Mutasi dan biomarker tumor.
  • Target antigen pada sel kanker.
  • Kondisi sistem imun pasien.
  • Stadium dan lokasi penyakit.
  • Riwayat terapi sebelumnya.
  • Fungsi organ dan kondisi umum pasien.

Tarlatamab dan kombinasi terapi untuk kanker kolorektal BRAF-mutasi memiliki bukti klinis paling kuat dalam kelompok penelitian ini. Vaksin neoantigen, CAR-T anti-GD2, dan TIL menunjukkan potensi besar, tetapi masih membutuhkan uji klinis lebih besar dan pemantauan jangka panjang.

Bagi pasien, langkah penting bukan mencari “obat kanker terbaru” secara umum, melainkan memastikan diagnosis, stadium, pemeriksaan biomarker, evaluasi fungsi organ, serta konsultasi dengan dokter spesialis onkologi. Terapi eksperimental sebaiknya dipertimbangkan melalui uji klinis atau pusat kanker yang memiliki pengawasan etik dan medis memadai.

Sumber jurnal penelitian

Berikut sumber jurnal utama dari enam penelitian yang dibahas. Perlu dibedakan antara artikel jurnal primer dan artikel NCI yang berfungsi sebagai ringkasan ilmiah atau laporan komunikasi riset.

1. Tarlatamab untuk kanker paru sel kecil

  • Jurnal: The New England Journal of Medicine
  • Judul: “Tarlatamab in Small-Cell Lung Cancer after Platinum-Based Chemotherapy”
  • Penulis utama: G. Mountzios dan kolega
  • Tahun: 2025
  • Volume/halaman: 393(4):349–361
  • DOI: 10.1056/NEJMoa2502099
  • Desain: Uji klinis fase 3, membandingkan tarlatamab dengan kemoterapi.

Penelitian menunjukkan overall survival median 13,6 bulan pada kelompok tarlatamab dibandingkan 8,3 bulan pada kelompok kemoterapi.pubmed.ncbi.nlm.nih


2. Encorafenib, cetuximab, dan mFOLFOX6

Penelitian ini memiliki dua publikasi penting:

  • Jurnal: Nature Medicine
  • Judul: “Encorafenib, cetuximab and chemotherapy in BRAF-mutant colorectal cancer: a randomized phase 3 trial”
  • Tahun: 2025
  • Volume/halaman: 31(3):901–908
  • DOI: 10.1038/s41591-024-03443-3
  • Fokus: Hasil awal objective response rate dari studi BREAKWATER.pubmed.ncbi.nlm.nih

Publikasi hasil survival yang lebih lengkap terdapat di:

  • Jurnal: The New England Journal of Medicine
  • Judul: “Encorafenib, Cetuximab, and mFOLFOX6 in BRAF-Mutated Metastatic Colorectal Cancer”
  • Tahun: 2025
  • Volume/halaman: 392(24):2425–2437
  • DOI: 10.1056/NEJMoa2501912
  • Desain: Uji klinis fase 3 pada kanker kolorektal metastatik dengan mutasi BRAF V600E.pubmed.ncbi.nlm.nih

3. TACE, pembrolizumab, dan lenvatinib pada kanker hati

Penelitian LEAP-012 diterbitkan di:

  • Jurnal: The Lancet
  • Judul: “Transarterial chemoembolisation combined with lenvatinib plus pembrolizumab versus dual placebo for unresectable, non-metastatic hepatocellular carcinoma”
  • Tahun: 2025
  • Volume/halaman: 405(10474):203–215
  • DOI: 10.1016/S0140-6736(24)02575-3
  • Desain: Uji klinis fase 3, membandingkan TACE plus lenvatinib–pembrolizumab dengan TACE saja.pubmed.ncbi.nlm.nih

Penelitian tersebut menunjukkan perbaikan progression-free survival, tetapi manfaat overall survival harus ditafsirkan secara lebih hati-hati dan terus dipantau.

Penelitian lain, EMERALD-1, juga diterbitkan dalam The Lancet:

  • Jurnal: The Lancet
  • Judul: “Durvalumab with or without bevacizumab with transarterial chemoembolisation in hepatocellular carcinoma”
  • Tahun: 2025
  • Volume/halaman: 405(10474):216–232
  • DOI: 10.1016/S0140-6736(24)02551-0.pubmed.ncbi.nlm.nih

4. Vaksin kanker personal berbasis neoantigen

Penelitian vaksin neoantigen pada kanker pankreas dan ginjal berasal dari dua artikel utama.

Kanker pankreas

  • Jurnal: Nature
  • Judul: “Personalized RNA neoantigen vaccines stimulate T cells in pancreatic cancer”
  • Tahun: 2023
  • Volume/halaman: 618(7963):144–150
  • DOI: 10.1038/s41586-023-06063-y
  • Desain: Uji klinis fase 1 terhadap vaksin mRNA personal setelah operasi kanker pankreas.pubmed.ncbi.nlm.nih

Kanker ginjal

  • Jurnal: Nature
  • Judul: “A neoantigen vaccine generates antitumour immunity in renal cell carcinoma”
  • Tahun: 2025
  • Volume/halaman: 639(8054):474–482
  • DOI: 10.1038/s41586-024-08507-5
  • Desain: Uji klinis fase 1 pada pasien kanker ginjal berisiko tinggi setelah operasi.pubmed.ncbi.nlm.nih

Artikel NCI yang digunakan dalam laporan sebelumnya bukan jurnal primer, melainkan ringkasan dari hasil penelitian yang diterbitkan di Nature.cancer


5. CAR-T anti-GD2 untuk diffuse midline glioma

  • Jurnal: Nature
  • Judul: “Intravenous and intracranial GD2-CAR T cells for H3K27M+ diffuse midline gliomas”
  • Tahun: 2025
  • Volume/halaman: 637(8046):708–715
  • DOI: 10.1038/s41586-024-08171-9
  • Desain: Penelitian klinis fase awal terhadap CAR-T yang diberikan melalui rute intravena dan intrakranial.pubmed.ncbi.nlm.nih

Penelitian ini menunjukkan penyusutan tumor dan perbaikan neurologis pada sebagian pasien, tetapi jumlah pasien masih terbatas. Karena itu, terapi tersebut masih bersifat investigasional.


6. TIL untuk kanker gastrointestinal metastatik

  • Jurnal: Nature Medicine
  • Judul: “Neoantigen-specific tumor-infiltrating lymphocytes in gastrointestinal cancers: a phase 2 trial”
  • Tahun: 2025
  • Volume/halaman: 31(6):1994–2003
  • DOI: 10.1038/s41591-025-03627-5
  • Desain: Uji klinis fase 2 nonrandomisasi pada kanker gastrointestinal metastatik yang telah resisten terhadap terapi standar.pmc.ncbi.nlm.nih

Penelitian membandingkan TIL yang dipilih berdasarkan reaktivitas terhadap tumor, baik tanpa maupun dengan pembrolizumab. Respons objektif tercatat pada 3 dari 39 pasien dalam kelompok TIL saja dan 8 dari 34 pasien dalam kelompok TIL plus pembrolizumab.

Tag: